
“Kita berbeda!” Memang.
“Saya ingin bebas, tidak seperti yang kau harapkan”.
“Saya tidak mengerti jalan pikiranmu. Saya sekarang terlihat seperti perempuan murahan”
“Kenapa semua perempuan selalu berpikir begitu?”
“Entahlah, saya rasa begitu.”
“Laki-laki selalu dihadapkan pada pilihan.” Kenapa?
“Karena katanya jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Kenapa tersenyum? Tapi tidak apa-apa, kau terlihat manis kalau sedang tersenyum.”
“Jadi kau memilih siapa?”
“Kebebasan.”
“Kebebasan seperti apa? Kau tidak merasa bebas ketika saya memegang tanganmu?”
“Rasa-rasanya begitu.”
“Jadi kau benar-benar ingin bebas?”
“Menurutmu itu masalah?”
“Mungkin.”
“Jadi tidak pasti?”
“Mungkin.”
“Sebentar, hubungan jumlah perempuan dengan kebebasanmu itu apa?”
“Sekarang itu jadi masalah?”
“Kalau ini iya.”
“Anggap saja itu humor.”
“Maksudmu?”
“Bukannya dulu kau yang meminta saya untuk menulis tentang kau?”
“Ya, karena saya tidak mau kau hanya menulis tentang dia saja.”
“Menurutmu saya egois?”
“Ketika saya meminta kebebasanmu itu juga egois.”
“Saya mencintaimu.”
“Sebesar apa?”
“Lebih besar dari kemarin dan tidak lebih besar dari besok.”
“Itu juga humor?”
“Iya.”
“Kenapa terlalu serius?”
Di Juve ada pirlo loh nak. Biar ada yang perhatikan. RT @ivantarunas Hatimu di Milan nak, yuk mari merapat RT ... http://t.co/30dRlWSV
6 Responses to “Bebas”
hahahahaha… why so serious ? :p
hahaha i’m not serious. :p
why you said so if you are not serious? :p
oh jez, your question look so serious.:D
which part do you think seriously?
oh, really?
the whole part, james. i thought when you wrote those meaningful words, you did mean it.. am i right? :p
hmmm jadi bingung mau ngomong apa :p