Ziarah

 

Ini mungkin terlalu cepat. Jam setengah delapan malam saya sudah berada di bandara Soekarno-Hatta. Pesawat yang saya tumpangi baru take off jam empat pagi besok hari dan artinya saya harus menunggu sekitar 8 jam di bandara. Saya mencari informasi keberadaan musholla di bandara. Mungkin saya bisa tidur disana. Tapi sekarang terlalu cepat karena belum terlalu malam. Akhirnya saya putuskan duduk sebentar di bawah lampu sorot, menyalakan rokok dan membaca Novel Brida yang sengaja saya pilih untuk ziarah kali ini.

Ziarah adalah salah satu praktik sebagian besar umat beragama yang memiliki makna moral yang penting. Kadang-kadang ziarah dilakukan ke suatu tempat yang suci dan penting bagi keyakinan dan iman yang bersangkutan. Tujuannya adalah untuk mengingat kembali, meneguhkan iman atau menyucikan diri. Terlalu serius.

Saya ziarah ke Makassar bukan karena Makassar adalah kota yang suci. Bukan sama sekali. Saya ke Makassar ingin menemukan ketenangan jiwa macam pejiarah dan bertemu dengan seseorang. Dia ibarat sang alkemis atau sang Magus didalam novel Coelho. Belum lama saya mengenal orang ini dan itu benar-benar menarik. Mungkin dia bisa memecahkan kebuntuan pikiran saya yang terus gelisah belakangan. ha ha ha. Ini suara hati yang semakin bias. Saya sedikit tidak percaya dengan alasan saya.

Tiket sudah saya beli dari jauh-jauh hari sebelum mendapat restu dari orang tua saya. Keinginan saya terlalu kuat. Saya benar-benar merasa benar di jalan yang salah. Salah karena tidak ada restu. Dua hari menjelang keberangkatan, mama saya mengirim pesan. Dia meminta saya segera pulang ke Makassar. Toye mau dioperasi.

Kembali ke bandara. Pikiran saya mulai dibawah semakin dalam oleh Coelho lewat novel karangannya. Terutama di kalimat, “Tak seorang pun tahu apa yang mungkin terjadi di menit selanjutnya, dan kita tetap saja melangkah maju. Karena kita percaya. Karena kita memiliki iman…. Bahwa setiap momen dalam hidup adalah tindakan berdasarkan iman”.

Saya sedikit terhibur malam ini karena sepenggal kalimat itu. Saya sudah berjalan di jalan yang benar. Saya mengikuti kata hati saya tanpa alasan yang pasti tapi saya percaya disitu harta saya berada. Ah, mulai ngelantur. Saya berhenti membaca. Menatap ke atas. Membiarkan diri saya melawan kerasnya cahaya lampu tepat di mata saya. Saya agak sensitif dengan cahaya yang terlalu terang. Mata saya kadang sakit. Seperti vampire. Saya membayangkan diri saya seperti Edward Cullen di serial Twilight. Seorang vampire romantis yang menemukan pasangan jiwanya setelah hidup beratus-ratus tahun. Saya mulai berpikir, siapa pasangan jiwa saya?

Saya mulai merasa ngantuk dan kemudian saya menyalakan rokok sekali lagi. “Mau kemana bang?” Orang asing bertanya kepada saya. Di Jakarta, saya sedikit paranoid dengan orang asing. Saya tidak percaya Jakarta. Tapi malam ini saya tidak mau sendiri.

“Ke Makassar mas”, jawab saya.

Dia mulai bercerita soal tujuannya, tiket yang melonjak naik dari harga biasanya, keberangkatannya yang baru jam tujuh pagi sampai barang dagangannya yang sengaja dia beli dari Jakarta untuk dijual di Pangkal Pinang. Saya mulai memeluk erat barang bawaan saya.

Sudah jam setengah dua belas. Saya takut sakit jika tidak tidur. Saya mulai berpikir untuk ke musholla dan entah kenapa saya mengajak orang ini. Saya bilang ke dia, saya tahu tempat istirahat yang pas malam ini. Dia mau-mau saja. Sampai disana ternyata mushollanya tutup, ada peraturan untuk tidak tidur disana. Saya merasa bersalah telah mengajak orang asing ini. Dia dengan temannya satu lagi. Saking ngantuknya, saya tertidur di kursi di depan ruang tunggu Damri. Sekitar satu jam saya tertidur dan ketika terbangun saya melihat salah satu dari mereka tidak sedang tidur, saya tanya ke dia kenapa tidak tidur.Ternyata dia mempersilahkan saya tidur terlebih dahulu, biar bergantian dengan dia menjaga barang bawaan kami. Saya sudah salah berpikir tentang mereka.

Sudah jam tiga. Saya pamit ke salah satu dari mereka karena yang satunya sedang tertidur. Saat berpisah, saya bahkan belum menanyakan nama mereka. Terkadang kita menemukan orang baik disepanjang perjalanan hidup kita tanpa tahu asal usul mereka. Mungkin kita tidak perlu tahu siapa mereka untuk menghindari ikatan.

Di atas pesawat tiba-tiba bayangan kematian melintas. Bagaimana kalau pesawat ini jatuh? Terlintas begitu saja dan ini pertama kali, padahal ini bukan pertama kali saya naik pesawat. Saya coba menenangkan diri dengan berdoa. Saya tidak ingin mati di tempat ini. Saya ingin bertemu sang Magus itu. Sesuatu yang mungkin mampu merubah keadaan. Mungkin harapan saya terlalu berlebihan.

 

One Response to “Ziarah”

  1. diand. says:

    pasti dumba-dumba gleter kan dipesawat.hahaha
    tips: klo tiba2 muncul pikiran2 jelek, saya biasanya baca2 majalah dipesawat klo nd ya baca buku petunjuk keselamatan, skalian jaga2 sama buku doa yg isinya doa 5 agama.hahaha

Leave a Reply

  • Message

    Some photographs on this blog I took randomly from the Internet and directly from its source. Mostly, the photographs of Henri Cartier-Bresson's work. That is because my admiration to his work on the world of photography. My original photographs can be found here.