Cerita itu tidak pernah basi, cerita yang benar-benar terjadi apalagi. Saya punya cerita soal Bandara ini. Bandara Hasanuddin. Sebenarnya, sih, tidak ada yang benar-benar spesifik. Buat saya Bandara ini salah satu bagian penting di Makassar. Disini ada pertemuan dan juga perpisahan.
Ada orang tua yang pernah berkata, “setiap pertemuan pasti ada perpisahan”. Pertemuan selalu membawa sukacita, dumba-dumba kalau mau ketemu orang yang penting. Ya, sama seperti saya hari ini. Perpisahan? Jangan dibahas sekarang.
Kedatangan saya kesini untuk bertemu beberapa orang. Sang Magus yang saya maksud. Aneh menyebut kata sang Magus. Mereka cuma beberapa orang biasa kok.
Pagi ini Kiki, teman SMP saya, berbaik hati menjemput saya. Memang, teman paling baik. ha ha ha. Tidak lama saya di bandara dia sudah datang. Mobil escudo warna hitam kalau tidak salah. Kacanya agak gelap, jadi kalau dilihat dari luar tidak begitu jelas. Kaca sebelah kiri, di kursi penumpang terbuka. Orang yang pertama kali saya lihat adalah Fari dan saya tersenyum lebar.
Ini pertemuan kedua kali saya dengan Kiki tahun ini. Pertama kali pas dia lagi ada di Jakarta. Dan, ini pertama kali saya ketemu Fari. Saya selalu grogi ketemu dengan orang yang baru saya kenal. Apalagi dengan perempuan ini. Ternyata dia cantik. Sungguh. Sayang sudah punya pacar. ha ha ha.
Ceritanya dimana? Tidak ada sebenarnya. Makanya jangan membuat harapan. Hari cepat berlalu, sudah malam. Hidup semakin tidak jelas.
Di Juve ada pirlo loh nak. Biar ada yang perhatikan. RT @ivantarunas Hatimu di Milan nak, yuk mari merapat RT ... http://t.co/30dRlWSV
2 Responses to “Datang ke Makassar”
ah..sy sudah berharap banyak loh
hahahaha setidaknya sudah berharap