Menguji Kesetiaan

 

“We had a once in a lifetime but I just couldn’t see until it was gone” – Peabo Bryson

Salah satu hal yang saya tunggu-tunggu setiap datang ke Makassar adalah ke rumah mami terus menuju ke rak buku. Rak bukunya besar, ya, pasti banyak buku. Semuanya menarik, sejelek apapun sampulnya. Sayangnya saya tidak bisa begitu lama bertahan membaca satu buku. Bahkan buku yang saya beli saya abaikan dalam waktu yang lama.

Untuk bekal perjalanan ke Makassar, saya membawa dua buku. Salah satunya novel Brida. Beda dengan novel Zahir yang saya selesaikan dalam waktu singkat. Kalau tidak salah sekitar dua hari. Tapi Brida, sampai sekarang saya abaikan dan beralih ke novelnya Leo Tolstoy.

Dibandingkan karya Tolstoy, karya Coelho lebih gampang dinikmati. Jadi kalaupun saya akhirnya membaca buku karya Tolstoy, itu cuma karena penasaran. Awalnya selalu bagus tapi menjadi antiklimaks di pertengahan. Mungkin ada korelasi antara perilaku individu secara umum dengan perilaku membacanya. Saya susah untuk setia. Bahkan kepada diri sendiri.

Orang-orang pasti bilang saya labil. Persetan apa kata orang. Bukannya manusia adalah makhluk yang dinamis? Efek positifnya dia mampu menciptakan lingkungannya sendiri. Sejarah mencatat segala perbuatan manusia. Tidak ada satupun manusia, sekalipun dengan rutinitas yang sama, melakukan hal yang sama dalam waktu yang sama di hari yang berbeda. Ini anugerah Tuhan. Anugerah untuk bebas berkehendak. Luar biasa.

Jika kita sadar bahwa selama hidup kita sering diperhadapkan pada beberapa pilihan, misalnya memilih tempat makan hingga pasangan jiwa, itu yang namanya kehendak bebas. Itu anugerah sekaligus jebakan. Kenapa jebakan? Ya, kalau salah pilih konsekuensinya pasti buruk. Kita tidak usah perdebatkan mana sesuatu yang buruk dan mana yang baik. Kita punya pertimbangan sendiri-sendiri. Kehendak bebas itu sendiri-sendiri. Lantas, kenapa masih ingin mengatur orang lain? Dasar orang tua.

Kehendak bebas saya banyak dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat empiris. Saya jadi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Serius. Ini anugerah! Tapi dengan asumsi saya berada dalam kondisi benar-benar sadar. Bukan dalam kondisi tetha. Bisa bedakan?

Kalau sudah tahu benar dan salah, kenapa masih saja hidup ini tidak berjalan baik. Indikatornya, saya masih sering gelisah, cemas, atau apalah namanya. Seharusnya kehidupan menjadi lebih baik jika saya terus berjalan di jalan yang benar. Katanya sudah tahu benar dan salah? Bagaimana ya? Pernah tidak berpikir kalau jalan yang aman akan membosankan? Atau jangan-jangan cuma saya yang berpikir seperti itu?

Panjang kali lebar, ini tidak akan selesai. Tulisan ini, sesuai judulnya, berujung ke masalah kesetiaan. Biar tidak bias, saya tertarik untuk membahas ke hal-hal yang sensitif. Memilih pasangan jiwa. Kelihatan banci, melankolis, tapi ini paling gampang dipahami. Karena dia menyentuh hati. Makanya istilah berbicara dari hati ke hati semakin menjadi populer.

Kesetiaan itu pilihan. Semua hal adalah pilihan. Dulu saya pernah mengabaikan seseorang dan di Brida tertulis, kutukannya adalah kita akan selalu merasa kesepian. Kesepian walaupun tidak sendiri. Memang, saya tidak pernah puas dengan satu pasangan karena selalu merasa ada celah yang kosong. Ada bagian-bagian tertentu yang tidak bisa dijelaskan. Sama hal ketika disuruh menemukan alasan kenapa seorang laki-laki mencintai seorang wanita. Lagi-lagi tidak ada habisnya.

Kita tidak akan pernah puas dengan satu pilihan. Ini berlaku juga untuk segala hal. Sampai-sampai kita lupa bersyukur untuk apa yang sudah kita punya. Solusinya, tidak akan saya berikan. Syukur kalau tidak ada yang berharap saya berikan solusi. Menguji kesetiaan itu seperti menjaring angin. Sia-sia. Tidak ada yang benar-benar setia. Manusia adalah makhluk yang dinamis dan akuilah itu. Tapi sekarang, saya sedang belajar untuk setia. Setia untuk mencoba hal yang tidak mungkin. Misalnya setia pada pasangan. Itu tidak mungkin kan? Sudahlah, ayo mencoba. Ini cuma perkara kecil.

 

3 Responses to “Menguji Kesetiaan”

  1. Jem, kamu adalah salah satu blogger yang feminim.

  2. jalf says:

    hahahaha kenapa bisa Man?

Leave a Reply

  • Message

    Some photographs on this blog I took randomly from the Internet and directly from its source. Mostly, the photographs of Henri Cartier-Bresson's work. That is because my admiration to his work on the world of photography. My original photographs can be found here.