
Enaknya jadi manusia adalah kehidupan yang selalu berubah. Emosi yang bisa sewaktu-waktu berubah dan kondisi fisik yang terus mengalami perubahan. Itu baru satu individu, belum lagi jika secara kumulatif terjadi. Perubahan secara jumlah itu membentuk lingkungan yang dominan. Lingkungan yang dominan bisa jadi mempengaruhi individu untuk mengalami perubahan diluar perubahan yang mungkin terjadi karena dirinya sendiri.
Faktor lingkungan merubah persepsi seseorang tentang satu hal. Seberapa besar perubahan kognitif seorang individu dibenarkan karena pengalaman atau hubungan timbal balik dengan lingkungannya. Saya baru membaca sepintas tentang teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Benar atau salah siapa peduli. Maksud saya, saya tidak peduli kebenaran semacam apa yang dianut orang lain. Masalahnya perubahan lingkungan yang kita alami beda-beda. Akhirnya perbedaan persepsi seharusnya menjadi wajar. “Tidak peduli” menurut persepsi saya artinya saya toleran loh. Salahkan lingkungan kalau salah.
Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang bertanya kepada saya tentang hidup. Apakah hidup ini adil? Itu jika kehidupannya dibandingkan dengan hidup orang lain. Tapi sungguh kawan, ini tidak akan saya tulis disini, tapi percaya saja kalau hidupnya memang berat. Padahal, dulu saya berpikir hidup saya yang paling berat di bumi. Kalau saya tidak tahu cerita tentang kehidupan dia, mungkin persepsi saya masih sama. Itu pertanyaan klasik yang sudah membatu di kepala saya. Jawabannya gampang, kan? Jelas tidak adil.
Apa alasan manusia bersyukur untuk hidup yang tidak adil? Membangun mekanisme pertahanan diri? Tergantung. Lagi-lagi kembali ke dominasi lingkungan yang membentuk karakter seseorang. Saya jadi teringat film Spiderman dibagian dia terkena virus Venom yang akhirnya merubah karakter Peter Parker. Tapi faktor lingkungannya yang dominan, ketika tumbuh dengan keluarganya, mampu mengembalikan emosinya yang sempat tersesat. Entah karena faktor alam bawah sadar yang mendorong dia mengalami perubahan. Entahlah. Saya cukup kelaparan saat ini untuk membahas tulisan serius ini. Sialan.
Tadi di tangan saya masih ada rokok yang terakhir. Itu yang terakhir malam ini. Dan, rokok itu mati sebelum tulisan ini selesai. Dalam hati saya hanya bersyukur. Tindakan lain selain bersyukur sama saja, kan?
Di Juve ada pirlo loh nak. Biar ada yang perhatikan. RT @ivantarunas Hatimu di Milan nak, yuk mari merapat RT ... http://t.co/30dRlWSV
2 Responses to “Rokok Terakhir”
life is unfair, yet life is precious.
tulisan yg menyentil kakak. salam hangat dari Jakarta
Hai Brad, tks sudah mampir